Belajar Bola Basket, Belajar Memecahkan Masalah: Praktik PBL dalam Pembelajaran PJOK di SD Negeri Nogopuro

“Kenapa bolanya selalu tidak sampai ke teman?”

Pertanyaan sederhana seperti itu mungkin terdengar sepele. Namun, di lapangan SD Negeri Nogopuro pada Rabu pagi, 2 September 2026, pertanyaan tersebut justru menjadi awal dari sebuah proses belajar yang lebih besar daripada sekadar belajar bermain bola basket.

Pagi itu, lapangan dipenuhi peserta didik kelas V yang bersiap mengikuti pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK). Bagi sebagian besar peserta didik, bola basket masih menjadi permainan yang cukup asing dibandingkan sepak bola atau kasti yang lebih akrab dimainkan dalam keseharian. Pada kesempatan tersebut, saya sebagai mahasiswa yang sedang melaksanakan Praktik Kependidikan berkesempatan mengampu pembelajaran PJOK dengan materi permainan bola besar, khususnya teknik dasar bola basket, meliputi dribbling, passing yang terdiri atas chest pass, bounce pass, dan overhead pass, serta shooting. Namun, pembelajaran kali ini tidak berhenti pada pertanyaan apakah peserta didik mampu melakukan gerakan dengan benar. Lebih dari itu, mereka diajak untuk memahami mengapa sebuah gerakan belum berhasil dan apa yang dapat dilakukan untuk memperbaikinya.

Di sinilah pendekatan Problem Based Learning (PBL) diterapkan. Peserta didik tidak hanya menerima contoh gerakan dari guru kemudian menirukannya, tetapi diberikan kesempatan untuk menemukan dan memecahkan permasalahan yang muncul selama proses latihan. Ketika operan tidak sampai kepada teman, terlalu mudah direbut lawan, atau arah bola melenceng dari sasaran, peserta didik diajak untuk berhenti sejenak, mengamati, dan mencari penyebabnya. Mereka mulai memperhatikan berbagai hal yang sebelumnya mungkin luput dari perhatian: bagaimana posisi kaki saat melakukan operan, ke mana arah pandangan, bagaimana posisi tangan ketika melepaskan bola, hingga seberapa kuat dorongan yang diberikan. Bersama kelompok, mereka kemudian mendiskusikan apa yang perlu diperbaiki dan mencoba kembali gerakan tersebut.

Dengan demikian, lapangan olahraga berubah menjadi ruang belajar yang tidak hanya melatih tubuh, tetapi juga melatih cara berpikir.

Tujuan pembelajaran ini memang mencakup penguasaan teknik dasar dribbling, chest pass, bounce pass, overhead pass, dan shooting. Akan tetapi, proses tersebut sekaligus diarahkan untuk menumbuhkan berbagai keterampilan dan sikap, seperti disiplin, tanggung jawab, percaya diri, kerja sama, komunikasi, sportivitas, serta kemampuan menghargai teman.